PERJUANGAN DUNIA NYATA PASCA WISUDA
Di sela-sela pekerjaanku sekarang ini, aku ingin sedikit bercerita tentang pengalamanku dalam dunia kerja, atau sebut saja dunia nyata pasca wisuda.
Dunia ini aku masuki sejak tahun 2010. Tanggal 27 Agustus 2010 aku sidang skripsi, dilanjut dengan wisuda pada tanggal 25 Oktober 2010. Sungguh mana-masa yang indah. Rasanya bahagia dan bangga bisa mengajak orang tua dan keluarga ke acara wisuda. Kebetulan Mas Huda juga pulang ke Indonesia. Walaupun dia tidak dapat hadir, tetapi aku bahagia bisa menyelesaikan studi dengan baik, yang mana dia sangat berperan besar dalam keberhasilan tersebut.
Pasca wisuda merupakan gerbang masuknya dunia nyata, seperti kata orang, welcome to the jungle. Dan kini aku benar-benar merasakan jungle tersebut. Tak lama setelah wisuda aku melamar ke beberapa instansi. Aku tergoda oleh pembukaan CPNS. Walaupun agak ragu masuk PNS tetapi aku coba saja. Mulai dari BNN, BKN, KESDM, ANRI, LIPI, dan lainnya (aku lupa! saking banyaknya!). Namun, takdir berkata lain, tidak ada satupun yang nyantol. Babar blas ga lolos semuanya. Padahal perjuangannya bener2 deeeh, penuh keringat dan air mata. Mulai dari bolak balik Jakarta, lari-lari, kejar-kejaran angkot, kejar-kejar busway, nyasar-nyasar, kecewa berat dan sebagainya yang benar-benar bikin orang tertekan. Tetapi apa mau dikata, mungkin rejekiku bukan di sana.
Setelah mengalami masa-masa kecewa dan sengsara karena CPNS, akhirnya aku putuskan untuk melamar ke swasta. Walau begitu, idealisme sebagai seorang sarjana muda masih sangat tinggi. Aku tak mau sembarangan melamar kerja. Namun belum juga lolos dan mencapai cita.
Awal Januari 2011 aku benar-benar balik kampung alias mengangkut semua barangku di Semarang ke Pekalongan. Saat itu aku putuskan untuk melamar Pengajar Muda Indonesia Mengajar II. Alih-alih menunggu pengumuman aku mengajar di Pekalongan. Aku menggantikan seorang guru TKIT Ulul Albab di Pekalongan. Subhanallah, bener-bener terasa kesabarannya. Bagaimana tidak, yang dihadapi itu bocah-bocah yang kadang susah sekali diatur. Sungguh pelajaran yang sangat berharga.
Bulan Februari 2011 adalah saat pengumuman awal Pengajar Muda Indonesia Mengajar. Alhamdulillah aku lolos tahap I. Aku sangat bahagia. Dari sekian banyak yang mendaftar, aku masuk 200an besar. Bagiku itu suatu yang membanggakan, walaupun perjuangan belum berakhir. Aku sampai mimpi-mimpi ketemu Pak Anies Baswedan. Aku sangat yakin akan lolos menjadi Pengajar Muda. Sungguh suatu kepercayaan diri yang sangat tinggi. Sampai-sampai aku rela tidak mendaftar beasiswa S2 di Undip (Administrasi Pendidikan) demi menunggu pengumuman Indonesia Mengajar. Aku juga bulan itu tes PKPU Semarang dan suatu NGO di Solo, namun bentrok, sampai-sampai aku bolak balik Semarang Solo. Dan, akhirnya aku tidak lolos keduanya.
Bulan Maret 2011 adalah masa menunggu yang begitu puanjang. Aku menanti pengumuman Pengajar Muda yang akan diumumkan akhir Maret. Beberapa peluang beasiswa dan kerja aku lewatkan. Aku sempat bimbang dan kebingungan harus berbuat apa? Setelah tes Direct Assesment PM IM II di Jogja, aku begitu yakin akan lolos, sehingga dengan rela aku menunggu, walau tekanan kanan kiri atas bawah begitu kuatnya. Di rumah tanpa pekerjaan, seorang sarjana dengan IPK cumlaude 3.58, sungguh memalukan saja. Sampai akhirnya datang masanya, pengumuman PM IM II. Dan, ternyata aku TIDAK LOLOS. Betapa terpukulnya hati ini. Idealisme yang begitu tinggi tiba-tiba goyah segoyah-goyahnya. Pertanyaan besar muncul di dada, AKU HARUS BAGAIMANA?
Bulan April 2011 aku melamar ke Daya Dimensi Indonesia (DDI). Suatu perusahaan konsultan SDM yang menjadi rekruter di PM IM. Aku kenalan dengan salah seorang yang mewawancaraiku dan beliau adalah pemilik/direkturnya, aku lupa. Akhirnya aku dapat rekomendasi untuk melamar Management Internship Team (MIT) di Yayasan Indenesia Lebih Baik (YILB) di bawah DDI. Selain itu aku melamar ke Indonesia Japan Relationship Forum (IJRF). Aku tes IJRF di Jogja, yang mana mengingatkankku pada PM IM. IJRF ini lebih tepatnya pada pengarahan Relation Representative. Aku bingung mau diambil atau tidak. Dan akhirnya aku terima, dan kembali ke rumah dengan hati sedikit bahagia. Walau belum ada kejelasannya soal IJRF ini.
Bulan Mei aku ke Jakarta kembali untuk tes MIT DDI. Mungkin ini akan lebih baik dari IJRF. Setelah sekian lama tak ke Jakarta, akhirnya kembali juga. Tes berjalan lancar. Tinggal menunggu pengumumannya saja. Alhamdulillah lolos, aku jadi ke Jakarta. Pindah-pindah dan menetap di Jakarta. IJRF harus aku lepas. Pengalaman yang sangat sebentar, harus ditinggal demi kerja di Ibukota.
Bulan Juni aku mulai tinggal di Jakarta. Posisi MIT yang mungkin bukan posisi elit atau masih termasuk pemagang berani aku ambil sebagai bahan pengalamanku untuk ke depannya. Walau cukup berat, tetapi aku terima. Sebenarnya menarik, tetapi aku merasa ada yang ganjil di sana. Itu pun aku rasa bersama teman-teman lain peserta MIT, tetapi ya sudahlah, jalani saja.
Saat bulan Juni itu, aku mendapat informasi ada lowongan Beasiswa Kerjasama Kemenpora dan Pascasarjana UI. Perwakilan Forum Indonesia Muda (FIM) pun tahun lalu ada yang diterima (Ivan Ahda dan Tommy Ishak). Akhirnya berbagai cara aku tempuh agar bisa mendaftar di sana. Dengan modal ‘nyari-nyari’ uang pendaftarannya pun aku dapatkan juga. Aku bersyukur Tuhan begitu sayang kepadaku. Di saat mimpi S2 ku harus aku pendam dalam-dalam, akhirnya pintunya terbuka kembali. Dulu Undip tidak jadi daftar, Turki juga dan Perancis belum lolos juga. UI mungkin menjadi alternatif yang kesekian kalinya. Aku juga melamar Pengajar Muda IM kembali. Sampai-sampai aku membuat video khusus untuk mendaftar.
Bulan Juli aku tes SIMAK UI. Tes di Depok kampus UI. Sunggu pemandangan yang indah. Kampus kuning yang cukup berbeda dengan kampus biruku dulu. Akhir Juli menjadi kabar yang mengagetkan. Tiba-tiba YILB memutuskan kontrak MIT sebelum masanya 3 bulan habis. Jadi baru 2 bulan kami anak-anak MIT dilepas begitu saja. Sempat kecewa tetapi mau bagaimana. Pengajar Muda Indonesia Mengajar III juga pengumuman. Hasilnya adalah aku kembali BELUM LOLOS. Kini UI menjadi harapan satu-satunya. Dan akhirnya, ALHAMDULILLAH KHIKMATUL ISLAH LOLOS S2 UI. Kaget, terharu, bangga, akhirnya mimpi S2 kesampaian juga. Jadi UI menjadi pelipur lara di tengah duka tidak lagi bekerja. Namun, aku telah mempersiapkan semua sebelum lepas begitu saja dari kerja. Isu pelepasan MIT sudah lama, sehingga persiapan pun sudah ada. Aku lamar Magang di DPR Program dari Indonesia Parliamentary Center. MIT DDI lepas, UI dan Intership DPR didapat.
Bulan Agustus tepatnya tanggal 11 aku daftar ulang S2 UI. Sempat kebingungan juga karena tabrakan acaranya dengan Training dari IPC, sehingga aku harus bolak balik Bogor-Depok. Apalagi saat daftar ulang ada sedikit masalah terkait pembayaran. Kemenpora belum konfirmasi ke Akademik UI soal daftar ulang dan pembayaran, sehingga sempat tertunda soal daftar ulang. Hampir disuruh datang lagi bolak balik, tetapi akhirnya aku memilih menunggu saja soal kepastian daftar ulang. Dan akhirnya keputusan keluar, kami semua calon mahasiswa penerima beasiswa bisa langsung daftar ulang tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, ALHAMDULILLAH, sah menjadi mahasiswa Pascasarjana UI. Setelah selesai daftar ulang dan training, aku memutuskan pulang sambil menunggu mulai kuliah dan mulai magang di DPR.
Bulan September 2011 pasca lebaran aku kembali ke ibukota. Tanggal 9 September aku mulai masuk kuliah. Bahagia rasanya kembali masuk kelas dan belajar dengan tugas-tugasnya. Untuk magang DPR baru mulai beberapa minggu setelahnya. Dan kegiatanku bertambah, kuliah dan kerja atau tepatnya magang di Senayan sana.
Bulan Oktober tidak jauh berbeda, aku masih beraktivitas kuliah dan main ke Nusantara. Banyak hal yang mencengangkan mata di sana. Gedung sebesar itu membuatku membuka mata betapa sesungguhnya negeri ini kaya, tetapi kenapa masih banyak gelandangan di luar sana. Kadang rasanya pengen teriak aksi orasi di dalam sana, tetapi posisi sudah berbeda. Dulu jaman mahasiswa S1 bisa dengan bebasnya aksi dan orasi sebagai agent of changes. Tetapi sekarang sudah tak sama, aku harus bisa menempatkan posisi diri sebagai bagian dari Nusantara dan menjaga nama baik lembaga.
Bulan November rasanya sudah tak nyaman di sana. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan. Aku berusaha mencari lagi mana yang lebih baik dan sesuai dengan jiwa dan hati nurani. Untuk kuliah tetap jalan. Kini mulai mencoba-coba, sampai akhirnya ketahuan juga. Sempat bermasalah tetapi apa daya, harus dihadapi dengan baik-baik dan sesuai aturan yang ada.
Bulan Desember aku mengikuti Pelatihan Ketahanan Nasional untuk Pemuda (TANNASDA) sebagai perwakilan dari mahasiswa Pascasarjana penerima Beasiswa Kemenpora. Berat betul rasanya perjuangan untuk mengukutinya. Pasalnya, aku harus mengurus paspor juga yang begitu dadakan dan ribet. Dana tiba-tiba ada saja. Akhirnya aku beranikan diri ngurus paspor dan mengikuti Tannasda yang diadakan di Jakarta dan Filipina. Akhirnya mimpi keluar dari Indonesia kesampaian juga
Bulan Januari 2012 bulan baru tahun baru pekerjaan baru. Aku masuk suatu NGO bidang IT dengan posisi Akuntan. Sempat pusing tujuh keliling karena bukan bidangku. Tetapi beberapa pertimbangan membuatku memilih untuk bertahan. Banyak hal yang aku pelajari juga dan banyak informasi yang aku dapatkan di sana.
Bulan Februari 2012 adalah masa liburan semester 1. Kegiatanku hanya kerja. Alhamdulillah nilai lumayan dan naik dari IPK wisuda. Tetapi aku tetap harus berusaha agar IPK semester 2 naik dari sebelumnya. Cumlaude untuk S2 3.70 jadi butuh tenaga dan pikiran ekstra.
Bulan Maret 2012 aku mulai kuliah kembali. Aktivitas bertambah menjadi kuliah dan kerja. Namun sayang kerjaku di sana harus berakhir dan pindah. Di saat yang begitu mendesak, aku mencoba ke sana kemari. Dan akhirnya Alhamdulillah tiba-tiba dapat panggilan di suatu perusahaan riset. Sekaligus tawarannya juga berbeda dari yang kuduga. Berkah dan sesuai dengan yang kuharapkan. Selanjutnya disusul dengan tawaran panggilan dari Bappenas dan PPSDMS, tetapi aku telah memutuskannya. Aku memilih bekerja di riset sehingga aku lepas keduanya. Aku sudah merasa nyaman dan dapat ‘feel’nya. Aku bisa belajar banyak tentang riset dan rekan-rekannya pun juga ramah-ramah sehingga membuatku tak ingin berpaling dari tempat kerja. Aku berharap semoga pilihanku ini tepat dan bisa menjadi tempatku menggali potensi dan kemampuan serta tempatku mendalami dunia riset. Aku juga harus mengurus persiapan orang tua datang wisuda Mas Huda di Jepang. Jadi bulan Maret ini mirip seperti bulan Desember 2011, penuh dengan pernak pernik perjuangan
Bulan April 2012 aku sudah fix pindah di riset. Bulan April menjadi awalku memulai mendalami riset lebih dalam terutama tentang survei. Aku dapat tugas ke Malang untuk survei Follow up Biogas. Aku banyak belajar dan memahami bagaimana teknis survei itu sekaligus menilai dan membuat analisa dan menguji bagaimana suatu kuesioner itu bisa tepat sasaran dan dapat dipahami baik oleh interviewer ataupun responden. Sungguh pengalaman yang sangat berharga. Malang-Pasuruan menjadi tempat belajarku tentang survei riset.
Bulan Mei 2012 aku selesai survei. Hampir 3 minggu aku di Malang-Pasuruan. Kembali ke Ibukota dengan membawa segudang ilmu dan pengalaman. Kini kembali lagi ke aktivitas di Jakarta. Aku harus susulan UAS karena waktu itu aku berangkat ke Malang pas UAS. Kejar-kejaran dosen aku lakukan demi nilai Semester 2 ini. Dan Alhamdulillah kini telah selesai semua. Liburan pun bisa aku jalani dengan bahagia. Tetapi tetap dengan aktivitas kerja. Akhir bulan ini menjadi masaku untuk mengingat semua. Begitu panjang ternyata perjalanan pasca wisuda. Terima kasih semua, Mak, Pak, Mas Huda, Aris, Fatah, Alim, Makde, Mbah Putri, dan semua keluarga. Tak lupa terima kasih kepada sahabat-sahabat, guru, dosen, dan yang bisa disebutkan satu-satu. Aku menyayangi kalian semua. Tetap Berjuang dan Pantang Menyerah!
SEMANGAT ISLAH!!! KAMU BISA!!!
Rabu, 30 Mei 2012 (17.44)
Khikmatul Islah


